Tag Archives: Kho Ping Kho

BU KEK SIANSU_jilid-01_Kho Ping Kho

16 Dec

Image

Judul     : BU KEK SIANSU
Jilid        : 01
Penulis  : Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo

Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman oleh hawa dingin menusuk.

Cahaya kuning emas membawa kehangatan, keindahan, penghidupan itu mengusir halimun tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran embun yang kini menjadi penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bunga-bunga yang beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar dan berseri-seri. Cahaya matahari yang lembut itu tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan hutan yang rimbun, namun kelembutannya membuat cahaya itu dapat juga menerobos di antara celah-celah daun dan ranting sehingga sinar kecil memanjang yang tampak jelas di antara bayang-bayang pohon meluncur ke bawah, disana sini bertemu dengan pantulan air membentuk warna pelangi yang amat indahnya, warna yang dibentuk oleh segala macam warna terutama oleh warna dasar merah, kuning dan biru. Indah! Bagi mata yang bebas dari segala ikatan, keindahan itu makin terasa, keindahan yang baru dan yang senantiasa akan nampak baru biarpun andaikata dilihatnya setiap hari  Sebelum cahaya pertama yang kemerahan dari matahari pagi tampak, keadaan sunyi senyap.

Yang mula-mula membangunkan hutan itu adalah kokok ayam hutan yang pendek dan nyaring sekali, kokok yang tiba-tiba dan mengejutkan, susul menyusul dari beberapa penjuru. Kokok ayam jantan inilah yang menggugah para burung yang tadinya diselimuti kegelapan malam, menyembunyikan muka ke bawah selimut tebal dan hangat dari sayap mereka, kini terjadilah gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar dan terdengar kicau burung yang sahut-menyahut, bermacam-macam suaranya, bersaing indah dan ramai namun kesemuanya memiliki kemerduan yang khas. Sukar bagi telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena suara yang bersahut-sahutan itu merupakan kesatuan seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang ada pada telinga hanya indah! Sukar dikatakan mana yang lebih indah, suara burung-burung itu sendiri ataukan keheningan kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu.

Anak laki-laki itu masih amat kecil. Tidak akan lebih dari tujuh tahun usianya. Dia berdiri seperti sebuah patung, berdiri di tempat datar yang agak tinggi di hutan Gunung Seribu Bunga itu, menghadap ke timur dan sudah ada setengah jam lebih dia berdiri seperti itu, hanya matanya saja yang bergerak-gerak, mata yang lebar yang penuh sinar ketajaman dan kelembutan, seperti biasa mata kanak-kanak yang hidupnya masih bebas dan bersih, namun di antara kedua matanya, kulit di antara alis itu agak terganggu oleh garis-garis lurus. Aneh melihat seorang anak kecil seperti itu sudah ada keriput di antara kedua alisnya! Anak itu pakaiannya sederhana sekali, biarpun amat bersih seperti bersihnya tubuhnya, dari rambut sampai ke kuku jari tangannya yang terpelihara dan bersih, wajahnya biasa saja, seperti anak-anak lain dengan bentuk muka yang tampan, hanya matanya dan keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada anak-anak dan membuat dia menjadi seorang anak yang mudah mendatangkan kesan pada hati pemandangnya sebagai seorang anak yang aneh dan tentu memiliki sesuatu yang luar biasa.

Sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh seri kehidupan ketika dia tadi melihat munculnya bola merah besar di balik puncak gunung sebelah timur, bola merah yang amat besar dan yang mula-mula merupakan pemandangan yang amat menarik hati, akan tetapi lambat laun merupakan benda yang tak kuat lagi mata memandangnya karena cahaya yang makin menguning dan berkilauan. Maka dia mengalihkan pandangannya, kini menikmati betapa cahaya yang tiada terbatas luasnya itu menghidupkan segala sesuatu, dari puncak pegunungan sampai jauh di sana, di bawah kaki gunung. Anak itu lalu menanggalkan pakaiannya, satu semi satu dengan gerakan sabar dan tidak tergesa-gesa, tanpa menengok ke kanan kiri karena selama ini dia tahu bahwa di pagi hari seperti itu tidak akan ada seorang pun manusia kecuali dirinya sendiri berada di situ. Dengan telanjang bulat dia lalu menghampiri sebuah batu dan duduk bersila, menghadap matahari. Duduknya tegak lurus, kedua kakinya bersilang dan napasnya masuk keluar dengan halus tanpa diatur, tanpa paksaan seperti pernapasan seorang bayi sedang tidur nyenyak.

Sudah beberapa tahun dia melakukan ini setiap hari duduk sambil mandi cahaya matahari selama dua tiga jam sampai semua tubuhnya bermandi peluh dan terasa panas barulah dia berhenti. Juga di waktu malam terang bulan, dia duduk pula di batu itu, telanjang bulat, mandi cahaya bulan purnama selama tujuh malam, kadang-kadang sampai lupa diri dan duduk bersila sampai setengah tidur, dan barulah dia berhenti kalau tubuh sudah hampir membeku dan bulan sudah lenyap bersembunyi di balik puncak barat. Anak yang luar biasa! Memang. Demikian pula penduduk di sekitar Pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya Sin Tong (Anak Ajaib), demikianlah nama anak ini yang diketahui orang. Anak ajaib, anak sakti dan lain-lain sebutan lagi. Karena semua orang menyebutnya Sin Tong dan memang dia sendiri tidak pernah mau menyatakan siapa namanya, maka anak itu sudah menjadi terbiasa dengan sebutan ini dan menganggap namanya Sin Tong!

Mengapakah orang-orang dusun, penghuni semua dusun di sekitar lereng dan kaki Pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya anak ajaib? Hal ini ada sebabnya, yaitu karena anak berusia tujuh tahun itu pandai sekali mengobati penyakit dengan memberi daun-daun, buah-buah, dan akar-akar obat yang benarbenar manjur sekali! Hampir semua penduduk yang terkena penyakit datang ke lereng Hutan Seribu Bunga, yaitu nama hutan di mana anak itu tinggal karena di antara sekalian hutan di Pegunungan Seribu Bunga, hutan inilah yang benar-benar tepat disebut Hutan Seribu Bunga denga tetumbuhan beraneka warna, penuh dengan bunga-bunga indah, terutama sekali pada musim semi. Dan anak ini memberi daun atau akar obat dengan hati terbuka, dengan hati terbuka, dengan tulus ikhlas, suka rela dan selalu menolak kalau diberi uang! Maka berduyun-duyun orang dusun datang kepadanya dan diam-diam memujanya sebagai seorang anak ajaib, sebagai dewa yang menjelma menjadi seorang anak-anak yang menolong dusun-dusun itu dari malapetaka. Bahkan ketika terjangkit penyakit menular, penyakit demam hebat yang menimbulkan banyak korban tahun lalu, bocah ajaib inilah yang membasminya dengan memberi akar-akar tertentu yang harus diminum airnya setelah dimasak. Dengan akar itu, yang sakit banyak tertolong dan yang belum terkena penyakit tidak akan ketularan.

Ketika orang-orang dusun itu, terutama yang wanita, datang membawa pakaian baru yang sudah dijahit rapi, anak itu tak dapat menolak, dan menyatakan terima kasihnya dengan butiran air mata menetes di kedua pipinya akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Karena jasa orang-orang dusun ini, maka anak itu selalu berpakaian sederhana sekali, potongan “dusun”.
Siapakah sebetulnya anak kecil ajaib yang menjadi penghuni Hutan Seribu Bunga seorang diri saja itu? Benarkah dia seorang dewa yang turun dari kahyangan menjadi seorang anak-anak untuk menolong seorang manusia, seperti kepercayaan para penduduk di Pegunungan Tibet sehingga banyak terdapat Lama yang dianggap sebagai Sang Budha sendiri yang “menjelma” menjadi anak-anak dan menjadi calon Lama.

Sebetulnya tentu saja tidak seperti ketahyulan yang dipercaya oleh orang-orang yang memang suka akan ketahyulan dan suka akan yang ajaib-ajaib itu. Anak itu dahulunya adalah anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-Leng, sebuah kota kecil di sebelah timur Pegunungan Jeng-hoa-san. Dia bernama Kwa Sin Liong, dan nama Sin Liong (Naga Sakti) ini diberikan kepadanya karena ketika mengandungnya, ibunya mimpi melihat seekor naga beterbangan di angkasa diantara awan-awan. Adapun ayah Sin Liong adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya di kota Kun-leng. Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga ini ketika malam hari tiga orang pencuri memasuki rumah mereka. Tadinya tiga orang penjahat ini hendak melakukan pencurian terhadap keluarga kaya ini, akan tetapi ketika mereka memasuki kamar ayah dan ibu Sin Liong mempergoki mereka. Karena khawatir dikenal, tiga orang itu lalu membunuh ayah-bunda Sin Liong dengan bacokan-bacokan golok. Ketika itu Sin Liong baru berusia lima tahun dan di tempat remang-remang itu melihat betapa ayah-bundanya dihujani bacokan golok dan roboh mandi darah, tewas tanpa sempat berteriak. Saking ngeri dan takutnya, Sin Liong seperti berubah menjadi gagu, matanya melotot dan dia tidak bisa mengeluarkan suara. Karena ini, tiga orang pencuri itu tidak melihat anak kecil di kamar yang gelap itu. Mereka terutama sibuk mengumpulkan barang-barang berharga dan mereka itu juga panik, ingin lekas-lekas pergi karena mereka telah terpaksa membunuh tuan dan nyonya rumah.

Setelah para penjahat itu keluar dari kamar, barulah Sin Liong dapat menjerit, menjerit sekuat tenaganya sehingga malam hari itu terkoyak oleh jeritan anak ini. Para tetangga mereka terkejut dan semua pintu dibuka, semua laki-laki berlari keluar dan melihat tiga orang yang tidak dikenal keluar dari rumah keluarga Kwa membawa buntalan-buntalan besar, segera terdengar teriakan, “maling…maling!”

Dan orang-orang itu mengurung tiga penjahat ini. Beberapa orang lari memasuki rumah keluarga Kwa yang dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat suami-isteri itu tewas dalam keadaan mandi darah, sedangkan Sin Liong menangisi kedua orang tuanya, memeluki mereka sehingga muka,tangan dan pakaian anak itu penuh dengan darah ayahbundanya.

“Pembunuh! Mereka membunuh keluarga Kwa!”
Orang yang menyaksikan mayat kedua orang itu segera lari keluar dan berteriak-teriak,
“Manusia kejam! Tangkap mereka!”
“Tidak! Bunuh saja mereka!”
“Tubuh suami-istri Kwa hancur mereka cincang!”
“Bunuh!”
“Serbu…!”

Dan terjadilah pergumulan atau pertandingan yang berat sebelah. Tiga orang itu terpaksa melakukan perlawanan untuk membela diri, akan tetapi mana mereka itu, maling-maling biasa, mampu menahan serbuan puluhan bahkan ratusan orang yang marah dan haus darah?.

Anak laki-laki itu, ketika pengeroyokan di luar rumahnya sedang terjadi, keluar dari dalam, mukanya penuh darah, kedua tangannya dan pakaiannya juga. Dia melangkah keluar seperti dalam mimpi, mukanya pucat sekali dan matanya yang lebar itu terbelalak memandang penuh kengerian. Dia berdiri di depan pintu rumahnya, matanya makin terbelalak memandang apa yang terjadi di depan rumahnya. Jelas tampak olehnya betapa para tetangganya itu, seperti sekumpulan serigala buas, menyerang dan memukuli tiga orang pencuri tadi, para pembunuh ayah-bundanya. Terdengar olehnya betapa pencuri-pencuri itu mengaduh-aduh merintih-rintih, minta-minta ampun dan terdengar pula suara bak-bik-buk ketika kaki tangan dan senjata menghantami mereka. Mereka bertiga itu roboh, dan terus digebuki, dibacok, dihantam dan darah muncrat-muncrat., tubuh tiga orang itu berkelojotan, suara yang aneh keluar dari tenggorokan mereka. Akan tetapi orang-orang yang marah dan haus darah itu, yang menganggap bahwa apa yang mereka lakukan ini sudah baik dan adil, terus saja menghantami tiga orang manusia sial itu sampai tubuh mereka remuk dan tidak tampak seperti tubuh manusia lagi, patutnya hanya onggokan-onggokan daging hancur dan tulang-tulang patah!.

Ketika semua orang sudah merasa puas, juga mulai ngeri melihat hasil perbuatan mereka, menghentikan pengeroyokan terhadap tiga mayat itu dan mereka memasuki rumah keluarga Kwa, Sin Liong tidak berada disitu! Kiranya bocah ini, yang baru saja tergetar jiwanya, tergores penuh luka melihat ayah bundanya dibacoki dan dibunuh, ketika melihat tiga orang pembunuh itu dikeroyok dan disiksa, jiwanya makin terhimpit, luka-luka dihatinya makin banyak dan dia tidak kuat menahan lagi. Dilihatnya wajah orang-orang itu semua seperti wajah iblis, dengan mata bernyala-nyala penuh kebencian dan dendam, penuh nafsu membunuh, dengan mulut terngangga seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah berada di antara sekumpulan iblis, maka sambil menangis tersedu-sedu Sin liong lalu lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota Kun-leng, terus berlari ke arah pegunungan yang tampak dari jauh seperti seorang manusia sedang rebahan, seorang manusia dewa yang sakti, yang akan melindunginya dari kejaran iblis itu!

Seperti orang kehilangan ingatan, semalam itu Sin Liong terus berlari sampai pada keesokan harinya, saking lelahnya, dia tersaruk-saruk di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, kadang-kadang tersandung kakinya dan jatuh menelungkup, bangun lagi dan lari pagi, terhuyung-huyung dan akhirnya, pada keesokan harinya, pagi-pagi dia terguling roboh pingsan di dalam sebuah hutan di lereng bagian bawah Pegunungan Jeng-hoa-san.

Setelah siuman, anak kecil berusia lima tahun ini melanjutkan perjalanannya, dan beberapa hari kemudian tibalah dia di sebuah hutan penuh bunga karena kebetulan pada waktu itu adalah musim semi. Di sepanjang jalan mendaki pegunungan, kalau perutnya sudah mulai lapar, anak ini memetik buah-buahan dan makan daun-daunan, memilih yang rasanya segar dan tidak pahit sehingga dia tidak sampai kelaparan. Di dalam hutan seribu bunga itu Sin Liong terpesona, merasa seperti hidup di alam lain, di dunia lain. Tempat yang hening dan bersih, tidak ada seorang pun manusia. Kalau dia teringat akan manusia, dia bergidik dan menangis saking takut dan ngerinya. Dia telah menyaksikan kekejaman-kekejaman yang amat hebat. Bukan hanya kekejaman orang-orang yang merenggut nyawa ayah bundanya, yang memaksa ayah bundanya berpisah darinya dan mati meninggalkannya, akan tetapi juga melihat kekejaman puluhan orang tetangga yang menyiksa tiga orang itu sampai mati dan hancur tubuhnya, Dia bergidik dan ketakutan kalau teringat akan hal itu. Di dalam Hutan Seribu Bunga itulah dia merasakan keamanan, kebersihan, keheningan yang menyejukkan perasaan. Mula-mula Sin Liong tidak mempunyai niat untuk kembali ke kotanya karena ia masih terasa ngeri, tidak ingin melihat ayah bundanya yang berlumuran darah, tak ingin melihat mayat tiga orang pencuri yang rusak hancur.

Ketika dia tiba di hutan Jeng-hoa-san itu dan melihat betapa tubuh dan pakaiannya ternoda darah yang baunya amat busuk, dia cepat mandi dan mencuci pakaian di anak sungai yang terdapat di hutan itu, anak sungai yang airnya keluar dari sumber, jernih dan sejuk sekali. Mula-mula memang dia tidak ingin pulang karena kengerian hatinya, akan tetapi setelah dua tiga bulan “Bersembunyi” di tempat itu, timbul rasa cintanya terhadap Hutan Seribu Bunga dan dia kini tidak ingin pulang sama sekali karena dia telah menganggap hutan itu sebagai tempat tinggalnya yang baru!

Di dekat pohon peak yang besar, terdapat bukit batu dan di situ ada guanya yang cukup besar untuk dijadikan tempat tinggal, dijadikan tempat berlindung dari serangan hujan dan angin. Gua ini dibersihkannya dan menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan. Demikianlah, anak ini tidak tahu sama sekali bahwa harta kekayaan orang tuanya yang tidak mempunyai keluarga dan sanak kadang lainnya, telah dijadikan perebutan antara para tetangga sampai habis ludes sama sekali! Dengan alasan “mengamankan” barang-barang berharga dari rumah kosong itu, para tetangga telah memperkaya diri sendiri. Mereka ini tetap tidak tahu, atau tidak mengerti bahwa mereka telah mengulangi perbuatan tiga orang pencuri yang mereka keroyok dan bunuh bersama itu.

Mereka juga melakukan pencurian, sungguhpun caranya tidak “sekasar” yang dilakukan para pencuri. Jika dinilai, pencurian yang dilakukan para tetangga dan “sahabat” ini jauh lebih kotor dan rendah daripada yang dilakukan oleh tiga orang pencuri dahulu itu, karena para pencuri itu melakukan pencurian dengan sengaja dan terang-terangan mereka itu adalah pencuri, tidak berselubung apa-apa, dan kejahatannya itu memang terbuka, sebagai orang-orang yang mengambil barang orang lain di waktu Si Pemilik sedang lengah atau tertidur. Namun, apa yang dilakukan oleh para tetangga itu adalah pencurian terselubung, dengan kedok “menolong” sehingga kalau dibuat takaran, kejahatan mereka itu berganda, pertama jahat seperti Si Pencuri biasa karena mengambil dan menghaki milik orang lain, ke dua jahat karena telah bersikap munafik, melakukan kejahatan dengan selubung “kebaikan”.

Demikianlah sampai dua tahun lamanya anak berusia lima tahun ini tinggal seorang diri di dalam Hutan Seribu Bunga. Sebagai putera seorang ahli pengobatan, biarpun ketika usianya baru lima tahun, sedikit banyak Sin Liong tahu akan daun-daun dan akar obat, bahkan sering dia ikut ayahnya mencari daun-daun obat di gunung-gunung. Setelah kini dia hidup seorang diri di dalam hutan, bakatnya akan ilmu pengobatan mendapat ujian dan pemupukan secara alam. Dia harus makan setiap hari itu untuk keperluan ini, dia telah pandai memilih dari pengalaman, mana daun yang berkhasiat dan mana yang enak, mana pula yang beracun dan sebagainya. Selama dua tahun itu, dengan pakaian cabik-cabik tidak karuan, sering pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia dapat memilih daun-daun dan akar-akar obat, bukan dari pengetahuan, melainkan dari pengalaman. Mungkin karena tidak ada sesuatu lainnya yang menjadikan bahan pemikiran, maka anak ini dapat mencurahkan semua perhatiannya terhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah dan kembang yang mangandung obat ini sehingga penciumannya amat tajam terhadap khasiat daun dan akar obat. Dengan menciumnya saja dia dapat menentukan khasiat apakah yang terkandung dalam suatu daun, bunga, buah ataupun akar!

Tidak kelirulah kata-kata orang bahwa pengalaman adalah guru terpandai. Tentu saja kata-kata itu baru terbukti kebenarannya kalau seseorang memiliki rasa kasih terhadap yang dilakukannya itu. Dan memang di lubuk hati Sin Liong, dia mempunyai rasa kasih yang menimbulkan suka, dan suka ini menimbulkan kerajinan untuk mempelajari khasiat bunga-bunga dan daun-daun yang banyak sekali macamnya dan tumbuh di dalam Hutan Seribu Bunga itu.
Selain mempelajari khasiat tumbuh-tumbuhan, bukan hanya untuk menjadi makanan sehari-hari akan tetapi juga untuk pengobatan, Sin Liong mempunyai kesukaan lain lagi yang timbul dari rasa kasihnya kepada alam, kasih yang sepenuhnya dan yang mungkin sekali timbul karena dia merasa hidup sebatangkara dan juga timbul karena melihat kekejaman yang menggores di kalbunya akan perbuatan manusia ketika ayah ibunya dan tiga orang pencuri itu tewas. Di tempat itu dia melihat kedamaian yang murni, kewajaran yang indah, dan tidak pernah melihat kepalsuan-kepalsuan, tidak melihat kekejaman. Rasa kasih kepada alam ini membuat dia amat peka terhadap keadaan sekelilingnya, membuat perasaannya tajam sekali sehingga dia dapat merasakan betapa hangat dan nikmatnya sinar matahari pagi, betapa lembut dan sejuk segarnya sinar bulan purnama sehingga tanpa ada yang memberi tahu dan menyuruh hampir setiap pagi dia bertelanjang mandi cahaya matahari pagi dan setiap bulan purnama dia bertelanjang mandi sinar bulan purnama.

Tanpa disadarinya, tubuhnya telah menerima dan menyerap inti tenaga mujijat dari bulan dan matahari, dan membuat darahnya bersih, tulangnya kuat dan tenaga dalam di tubuhnya makin terkumpul di luar kesadarannya.

Setelah keringat membasahi seluruh tubuh dan beberapa kali memutar tubuhnya yang duduk bersila di atas batu, kadang-kadang dadanya, Sin Liong turun dari batu itu, menghapus peluh dengan saputangan lebar, kemudian setelah tubuhnya tidak berkeringat lagi, setelah dibelai bersilirnya angin pagi, dia mengenakan lagi pakaiannya dan pergi mengeluarkan bunga, daun, buah dan akar obat dari dalam gua untuk dijemur dibawah sinar matahari. Inilah yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, selain mencangkok, memperbanyak dan menanam tanaman-tanaman yang berkhasiat.

Menjelang tengah hari, mulailah berdatangan penduduk yang membutuhkan obat. Di antara mereka terdapat pula beberapa orang kang-ouw yang kasar dan menderita luka beracun dalam pertempuran. Untuk mereka semua, tanpa pandang bulu, Sin Liong memberikan obatnya setelah memeriksa luka-luka dan penyakit yang mereka derita. Lebih dari lima belas orang datang berturut-turut minta obat dan yang datang terakhir adalah seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi besar, dipunggungnya tergantung golok dan dia datang terpincang-pincang karena pahanya terluka hebat, luka yang membengkak dan menghitam.

“Sin-tong, kau tolonglah aku…” Begitu tiba di depan gua dimana Sin Liong duduk dan memotong-motong akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki-laki bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar itu menjatuhkan diri dan merintih kesakitan. Sin Liong mengerutkan alisnya. Di antara orang-orang yang minta pengobatan, dia paling tidak suka melihat orang kang-ouw yang dapat dikenal dari sikap kasar dan senjata yang selalu mereka bawa. Namun, belum pernah dia menolak untuk mengobati mereka, bahkan diam-diam dia menilai mereka itu sebagai orang-orang yang berwatak serigala, yang haus darah, yang selalu saling bermusuhan dan saling melukai, sehingga mereka ini merupakan manusia-manusia yang patut dikasihani karena tidak mengenai apa artinya ketentraman, kedamaian, dan kasih antar manusia yang mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan.

“Orang tua gagah, bukankah dua bulan yang lalu kau pernah datang dan minta obat karena luka di lengan kirimu yang keracunan?” tanyanya sambil menatap wajah berkulit hitam itu.
“Benar, benar sekali, Sin-tong. Aku adalah Sin-hek-houw (Macan Hitam Sakti) yang dahulu terkena senjata jarum beracun di lenganku. Akan tetapi sekarang, aku menderita luka lebih parah lagi. Pahaku terbacok pedang lawan dan celakanya, pedang itu mengandung racun yang hebat sekali. Kalau kau tidak segera menolongku, aku akan mati, Sin-tong.”

Sin Liong tidak berkata apa-apa lagi, menghampiri orang yang di atas tanah itu, memeriksa luka mengangga di balik celana yang ikut terobek. Luka yang lebar dan dalam, luka yang tertutup oleh darah yang menghitam dan membengkak, seluruh kaki terasa panas tanda keracunan hebat! Sin Liong menarik nafas panjang.

“Lo-enghiong, mengapa engkau masih saja bertempur dengan orang lain, saling melukai dan saling membunuh? Bukankah dahulu ketika kau datang kesini pertama kali, pernah kau berjanji tidak akan lagi bertanding dengan orang lain?”
Mata yang lebar itu melotot kemudian pandang matanya melembut. Tak mungkin dia dapat marah kepada anak ajaib ini. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun dapat bicara seperti itu kepadanya, seolah-olah anak itu adalah seorang kakek yang menjadi pertapa dan hidup suci!

“Sin-tong, aku adalah Sin-hek-houw, dan jangan kau menyebut Lo-Enghiong (Orang Tua Gagah) kepadaku. Aku adalah seorang perampok, mengertikah kau? Seorang perampok tunggal yang mengandalkan hidup dari merampok orang lewat! Kalau aku tidak butuh barang, aku tentu tidak akan menganggu orang, dan kalau orang yang kumintai barangnya itu tidak melawan, aku tentu tidak akan menyerangnya. Akan tetapi, dua kali aku keliru menilai orang. Dahulu, aku menyerang seorang nenek yang kelihatan lemah, dan akibatnya lenganku terluka hebat. Sekarang, aku merampok seorang kakek yang kelihatan lemah, yang membawa barang berharga, dan akibatnya pahaku hampir buntung dan kini keracunan hebat. Kau tolonglah, aku akan berterima kasih kepadamu, Sin-tong dan akan mengabarkan sesuatu yang amat penting bagimu”.
“Lo-enghiong, aku tidak membutuhkan terima kasih dan balasan. Aku mengenal khasiat tetumbuhan di sini, tetumbuhan itu tumbuh di sini begitu saja mempersilahkan siapapun juga yang mengerti untuk memetik dan mempergunakannya, tanpa membeli, tanpa merampas dan tanpa menggunakan kekerasan. Aku hanya memetik dan menyerahkan kepadamu, perlu apa aku minta terima kasih dan balasan? Lukamu ini hebat seluruh kaki sudah panas, berarti darahmu telah keracunan, Untuk mengeluarkan racunnya yang masih mengeram di sekitar luka, sebaiknya luka itu dibuka agar dapat diobati, tidak seperti sekarang ini ditutup oleh darah beracun yang mengering. Dapatkah kau membuka lukamu itu, Lo-enghiong?”

Orang setengah tua itu membelalakan mata dan kembali dia kagum mendengar cara bocah itu bicara, akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia teringat bahwa bocah ini adalah Sin-tong, anak ajaib! Maka dia lalu menghunus goloknya dan melihat berkelebatnya sinar golok, Sin Liong memejamkan matanya. Terbayang kembali tiga batang golok yang membacoki tubuh ayah bundanya, dan banyak golok yang kemudian membacoki tubuh tiga orang pencuri itu.

Sin-hek-houw menggunakan ujung goloknya untuk menusuk dan membuka kembali luka di pahanya. Dia mengeluh keras, akan tetapi lukanya sudah terbuka dan darah hitam mengucur keluar. Dengan siksaan rasa nyeri yang hebat, Sin-hek-houw melemparkan goloknya dan menggunakan kedua tangannya memijit-mijit paha yang terasa nyeri itu. Sin Liong berlutut, menggunakan jari tangannya yang halus untuk bantu memijat sehingga darah makin banyak keluar. Darah hitam dan baunya membuat orang mau muntah! Akan tetapi Sin Liong yang melakukan hal itu dengan rasa kasih sayang di hati, dengan rasa iba yang mendalam dan tidak dibuat-buat dan tidak pula disengaja, menerima bau itu dengan perasaan makin terharu. Betapa sengsara dan menderitanya orang ini, hanya demikian bisikan hatinya. Dia lalu mengambil bubukan akar tertentu, menabur bubukan itu ke dalam luka yang mengangga.
“Aduhhhhh..mati aku….!” Kakek itu berseru keras ketika merasa betapa obat itu mendatangkan rasa nyeri seperti ada puluhan ekor lebah menyengat-nyengat bagian yang terluka itu.
“Harap kaupertahankan, Lo-enghiong sebentar juga akan hilang rasa nyerinya. Jangan lawan ras nyeri itu, hadapilah sebagai kenyataan dan ketahuilah bahwa bubuk itu adalah obat yang akan mengusir penyakit ini.” Sambil berkata demikian, Sin Liong lalu menggunakan empat helai daun yang sudah diremas sehingga daun itu menjadi basah dan layu, kemudian ditutupnya luka itu dengan empat helai daun.

Benar saja, rintihan orang itu makin perlahan tanda bahwa rasa nyerinya berkurang dan akhirnya orang itu menarik nafas panjang karena rasa nyerinya kini dapat ditahannya.
“Harap Lo-enghiong membawa akar ini, dimasak dan airnya diminum. Khasiatnya untuk membersihkan racun yang masih berada di kakimu. Dengan demikian maka luka itu akan membusuk dan akan lekas sembuh. Obat bubuk dan daun-daun ini untuk mengganti obat setiap hari sekali, kiranya cukup untuk sepekan sampai luka itu sembuh sama sekali.” Sin Liong berkata sambil membungkus obat-obat itu dengan sehelai daun yang lebar dan menyerahkannya kepada Sin-hek-houw. Orang kasar itu menerima bungkusan obat dan kembali menghela napas panjang.
“Kalau saja aku dapat mempunyai seorang sahabat seperti engkau yang selalu berada di sampingku. Kalau saja aku dapat mempunyai seorang anak seperti engkau, kiranya aku tidak akan tersesat sejauh ini. Terima kasih, Sin-tong dan aku tidak dapat membalas apa-apa kecuali peringatan kepadamu bahwa engkau terancam bahaya besar”.

Sin Liong mengangkat muka memandang wajah berkulit hitam itu dengan heran.
“Sin-tong, dunia kang-ouw telah geger dengan namamu. Orang-orang kang-ouw, termasuk aku, yang telah menerima pengobatanmu, membawa namamu di dunia kang-ouw dan terjadilah geger karena nama Sin-tong menjadi kembang bibir setiap orang kang-ouw. Banyak partai besar tertarik hatinya, menganggap engkau tentu penjelmaan dewa atau Sang Buddha dan kini telah banyak partai dan orang-orang gagah yang siap untuk datang kesini dan untuk membujukmu menjadi anggota mereka atau menjadi murid orang-orang kang-ouw yang terkenal. Celakanya, di antara mereka itu terdapat 2 orang manusia iblis yang lain lagi maksudnya, bukan maksud baik seperti tokoh dan partai persilatan, melainkan maksud keji terhadap dirimu.”

Sin liong mengerutkan alisnya, sedikit pun dia tidak merasa takut karena memang dia tidak mempunyai niat buruk terhadap siapa pun di dunia ini.
“Lo-eng-hiong, aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun juga. Siapa orangnya yang akan menggangguku?”

Kakek itu memandang terharu. “Ahh…kau benar-benar seorang yang aneh dan bersih hatimu. Kalau aku memiliki kepandaian, aku akan melindungimu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, bukan hanya karena dua kali kau menolongku, melainkan karena tidak rela aku melihat orang mau merusak seorang bocah ajaib seperti engkau ini. Akan tetapi 2 orang iblis itu…” Sin-hek-houw menggiggil dan kelihatan jerih sekali.
“Siapakah mereka dan apa yang mereka kehendaki dari aku?”
“Di dunia kang-ouw, banyak terdapat golongan sesat, manusia-manusia iblis termasuk orang seperti aku. Akan tetapi dibandingkan dua orang yang kumaksudkan itu, mereka adalah dua ekor harimau buas sedangkan orang seperti aku hanyalah seekor tikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian pengemis, kelihatan seperti orang miskin yang alim, namun dialah iblis nomor satu, ketua Pat-Jiu Kai-pang, seorang yang memiliki rumah seperti istana dan wajahnya yang biasa dan alim menyembunyikan watak yang kejamnya melebihi iblis sendiri! Celakalah engkau kalau sudah berada di tangan kakek ini Sin-tong.”
“Hemmm, kurasa seorang kakek seperti dia tidak membutuhkan seorang anak kecil seperti aku. Aku tidak khawatir dia akan mengangguku, Lo-eng-hiong!”
“Tidak aneh kalau kau berpendapat demikian, karena kau seorang anak ajaib yang berhati dan berpikiran polos dan murni. Akan tetapi aku khawatir sekali, apa lagi iblis kedua yang tidak kalah kejamnya. Dia seorang wanita, cantik dan tak ada yang tahu berapa usianya. Kelihatannya cantik, rambutnya panjang harum dan selalu membawa sebuah payung, kelihatannya lemah dan membutuhkan perlindungan. Akan tetapi, seperti iblis pertama, semua kecantikan dan kelemah-lembutannya itu menyembunyikan watak yang sesungguhnya, watak yang lebih keji dan kejam daripada iblis sendiri.”
“Lo-enghiong, harap saja Lo-enghiong tidak memburuk-burukkan orang lain seperti itu. Aku tidak percaya.”

Kakek itu menarik napas panjang lalu bangkit berdiri. “Aku sudah memberi peringatan kepadamu Sin-tong. Dan kalau kau mau, marilah kau ikut aku bersembunyi di tempat aman sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Setelah keadaan benar aman barulah kau kembali kesini. Aku mendengar berita angin bahwa dua iblis itu sedang menuju ke Jeng-hoa-san mencarimu.”
Namun Sin Liong menggeleng kepala “Aku dibutuhkan oleh penduduk pedusunan si sini, aku tidak pergi kemana-mana, Lo-enghiong.”
“Hemmm, sudahlah! Aku sudah berusaha memperingatkanmu. Mudah-mudahan saja benar-benar tidak terjadi seperti yang kukhawatirkan. Dan lebih-lebih lagi mudah-mudahan aku tidak akan terluka lagi seperti ini, sehingga kalau kau benar-benar sudah tidak berada lagi di sini, aku payah mencari obat. Selamat tinggal,Sin-tong dan sekali lagi terima kasih.”
“Selamat jalan, Lo-enghiong, semoga lekas sembuh.”
Orang itu berjalan menyeret kakinya yang terluka, baru belasan langkah menoleh lagi dan berkata, “Benar-benarkah kau tidak mau ikut bersamaku untuk bersembunyi, Sin-tong?”

Sin Liong tersenyum dan menggeleng kepala tanpa menjawab.
“Sin-tong, siapakah namamu yang sesungguhnya?”
“Aku disebut Sin-tong, biarpun aku merasa seorang anak biasa, aku tidak tega menolak sebutan itu. Kau mengenalku sebagai Sin-tong, itulah namaku.”
Sin-hek-houw menggeleng kepala, melanjutkan perjalanannya dan masih bergeleng-geleng dan mulutnya mengomel, “Anak ajaib, anak ajaib..sayang..!” Dan dia mengepal tinju, seolah-olah hendak menyerang siapa pun yang akan menganggu bocah yang dikaguminya itu.

Beberapa hari kemudian semenjak Sin-hek-houw datang minta obat kepada Sin Liong, makin banyaklah orang yang datang membisikkan kepada anak itu tentang geger di dunia kang-ouw tentang dirinya. Bermacam-macam berita aneh yang didengar oleh Sin Liong tentang ancaman dan lain-lain mengenai dirinya, namun dia sama sekali tidak ambil peduli dan tetap saja bersikap tenang dan bekerja seperti biasa, tidak pernah gelisah, bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan tentang berita yang didengarnya itu.

Beberapa pekan kemudian, pagi hari dari arah timur kaki Pegunungan Jeng-hoa-san tampak berjalan seorang kakek seorang diri, menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah menikmati pemandangan alam di sekitar tempat itu, kakek ini usianya tentu sudah enam puluhan tahun, tubuhnya kurus kecil, pakaiannya penuh tambalan, dan wajahnya membayangkan kesabaran dan mulut yang ompong itu bahkan selalu menyungging senyum simpul keramahan. Dia melangkah perlahan-lahan memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, langkahnya dibantu dengan ayunan sebatang tongkat butut yang berwarna hitam, agaknya terbuat dari semacam kayu yang sudah amat tua sehingga seperti besi saja rupanya. Agaknya dia seorang pengemis tua yang hidupnya serba kekurangan namun yang dapat menyesuaikan diri sehingga tidak merasa kurang, bahkan kelihatannya gembira, menerima hidup apa adanya dan hatinya selalu senang. Buktinya ketika dia mendengar kicau burung-burung, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi pula! Akan tetapi kata-kata dalam nyanyiannya itu tentu akan membuat setiap orang yang mendegarnya mengerutkan kening, karena selain aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya!

“Apa artinya hidup kalau hati tak senang? Apa artinya hidup Kalau segala keinginan tak terpenuhi? Puluhan tahun mempelajari ilmu Bekal memenuhi segala kehendak Berenang dalam lautan kesenangan Mati pun tidak penasaran!”
Berkali-kali pengemis ini bernyanyi dengan kata-kata yang itu-itu juga, suaranya halus dan cukup merdu dan sambil bernyanyi dia mengatur irama lagu dengan ketukan tongkatnya di atas tanah lunak atau kebetulan mengenai batu yang keras, ujung tongkat itu tentu membuat lubang. Kedua kakinya yang bersepatu butut itu sendiri tidak meninggalkan jejak seolah-olah dia tidak menginjak tanah akan tetapi tongkat itu membuat jejak jelas karena setiap kali melubangi tanah maupun batu. Adapun kaki itu sendiri, biarpun menginjak tanah basah, sama sekali tidak meninggalkan bekas.

Beberapa menit kemudian setelah kakek aneh ini lewat, tampak berkelebat bayangan orang, juga datang dari arah timur melalui kaki bukit itu. Mereka itu terdiri dari 12 orang laki-laki dari usia tiga puluh sampai empat puluh tahun, dan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berwajah manis dan bertubuh bagus dengan pinggang ramping. 12 orang laki-laki itu kesemuanya kelihatan gagah dan pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat, sedangkan gerakan mereka yang ringan cekatan membuktikan bahwa mereka bukanlah sembarangan orang kang-ouw melainkan rombongan orang gagah yang berilmu. Hal ini memang tidak salah, karena mereka itulah yang terkenal dengan julukan Cap-sa-sinhiap (13 Pendekar Sakti) murid-murid utama dari Partai Besar Bu-tong-pai!
“Tahan dulu, para suheng!” Tiba-tiba wanita cantik itu mengangkat tangannya ke atas dan memperingatkan para suhengnya, kemudian dia menuding ke bawah dan berkata, “Lihat ini….!”
Tiga Belas orang ini memperhatikan bekas tusukan tongkat pengemis tadi yang jaraknya teratur dan biarpun tiba di atas batu, tetap saja tampak batu itu berlubang.
“Siapa lagi kalau bukan dia?” kata gadis itu dengan alis berkerut.
“Tenaga tusukan tongkat yang hebat” kata seorang.
“Dan jejak kakinya tidak tampak, tak salah lagi, Pat-jiu Kai-ong (Raja Pengemis Berlengan Delapan), tentu telah lewat disini, dan baru saja. Hayo cepat kita mengejarnya! Jangan sampai dia mendahului kita memasuki Hutan Seribu Bunga!” kata orang tertua di antara mereka, seorang berusia empat puluh tahun yang bermuka seperti harimau. Karena kini merasa yakin bahwa jejak lubang-lubang itu tentu terbuat oleh tongkat Pat-jiu kai-ong, maka tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai itu mencabut senjata masing-masing dan tampaklah berkilaunya senjata tajam itu meluncur ke depan ketika tiga belas orang itu mengerahkan ginkang mereka dan menggunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran ke depan, ke arah jejak berlubang itu.

Tak lama kemudian terdengarlah oleh mereka bunyi nyanyian kakek pengemis tadi. Tiga belas orang ini memperlambat larinya dan satu-satunya wanita diantara mereka mengomel lirih,
“Hemm, dasar manusia iblis. Selama hidupnya mengejar kesenangan dan demi kesenangan dia tidak segan melakukan hal-hal terkutuk yang kejamnya melebihi iblis sendiri!”
“Sssssttt, Sumoi, terhadap orang seperti dia kita harus berhati-hati. Semenjak dahulu, Bu-tong-pai tidak pernah bermusuhan dengan tokoh kang-ouw yang manapun juga, tidak pula mencampuri urusan mereka. Maka biarlah nanti kita bertanya dia secara baik-baik dan kalau tidak terpaksa sekali lebih baik kita menghindarkan pertempuran.” Kata twa-su-heng (kakak seperguruan tertua) mereka. Semua sutenya mengangguk, akan tetapi sumoinya mengomel,
“Siapakah yang takut kepadanya?” Dia melintangkan pedangnya. Memang nona yang bernama The Kwat Lin ini, terkenal berhati keras dan pemberani dan memang ilmu pedangnya hebat maka tidaklah mengherankan apabila diat terhitung seorang di antara Capsha Sin-hiap yang terkenal di dunia kang-ouw.
“Sumoi, kita harus mentaati perintah Suhu, agar tidak membawa Bu-tong-pai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain, baik kaum bersih maupun kaum sesat. Karena itu, dalam pertemuan ini, serahkan saja kepadaku untuk mewakili kalian semua!”

Karena maklum bahwa dia tidak boleh melanggar perintah gurunya dan bahwa twa-suheng ini selain paling lihai juga merupakan seorang yang mewakili Suhu mereka, Kwat Lin mengangguk biarpun bibirnya yang merah tetap cemberut tidak puas. Dia merasa tidak puas melihat sikap jerih yang diperlihatkan para suhengnya. Cap-sha Sin-hiap mempunyai nama besar di dunia kang-ouw, disegani kawan ditakuti lawan, masa sekarang berhadapan dengan seorang tokoh sesat saja kelihatan gentar? Suara nyanyian itu makin keras, tanda bahwa jarak di antara mereka dengan kakek itu makin dekat.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna, tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu dan dapat menyusul dan berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan kiri dan atas, tahu-tahu mereka telah berdiri menghadap di depan kakek pengemis dengan sikap keren dan gagah sekali. Kakek pengemis itu masih melanjutkan nyanyiannya sambil berdiri memandang, dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Kwat Lin, dia tidak meyembunyikan kekagumannya.

Setelah nyanyiannya berhenti, barulah dia tersenyum dan berkata, “Eh-eh, apakah kalian ini serombongan pemain akrobat yang hendak menjual kepandaian? Aku seorang pengemis tidak mempunyai uang untuk membayar upah kalian!”
“Harap Locianpwe tidak berpura-pura lagi. Kami tahu bahwa Locianpwe adalah Pat-jiu-kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Delapan Lengan) yang terhormat. Locianpwe adalah tokoh terkenal yang berjuluk Pat-jiu Kai-ong, bukan?”

Kakek yang mukanya kelihatan sabar dan baik hati itu tersenyum, senyumnya juga simpatik dan ramah. Tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu yang hanya baru mengenal nama kakek sakti kaum sesat ini, diam-diam merasa heran bahkan sangsi apakah benar mereka berhadapan dengan Pat-jiu Kai-ong yang kabarnya kejamnya seperti iblis, karena kakek ini kelihatan halus tutur sapanya dan begitu ramah!
“Ha..ha..ha, sungguh sukar jaman sekarang ini untuk bersembunyi dan menyembunyikan diri. Orang-orang muda sekarang amat tajam penciumannya dan penglihatannya, biarpun belum pernah jumpa sudah mengenal orang. Orang-orang muda yang gagah dan cantik”, dia memandang Kwat Lin lagi dengan kagum, “Tidak keliru dugaan kalian aku adalah Pat-jiu Kai-ong, seorang pengemis tua yang hanya memiliki sebatang tongkat butut ini. Tidak tahu siapakah kalian dan perlu apa kalian menghadang perjalananku?”
“Kami adalah Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai!” kata Kwat Lin dan karena sudah terlanjur, maka percuma saja twa-suhengnya mencegahnya dengan pandang matanya.
“Benar, kami adalah murid-murid Bu-tong-pai, Locianpwe,” kata Twa-suheng itu dengan hati tidak enak karena sumoinya yang lancang itu ternyata telah membuka kartu dan mengaku bahwa mereka dari Bu-tongpai, berarti membawa-bawa nama perkumpulan mereka.
“Ha..ha..ha, bagus. Memang Bu-tong-pai mempunyai banyak murid pandai, gagah dan cantik sepanjang kabar yang kudengar. Akan tetapi kalau tidak salah, aku tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai.”

Melihat sikap kakek itu masih ramah dan kata-katanya juga halus dan tidak bermusuh, twa-suheng itu menjadi makin tidak enak. Akan tetapi karena dia maklum orang macam apa adanya kakek di depannya ini, dan betapa Sin-tong yang mereka dengar merupakan seorang anak ajaib yang luar biasa dan sudah menolong manusia dengan pengetahuan yang tepat mengenai khasiat tetumbuhan yang mengandung obat, maka tetap saja dia merasa khawatir akan keselamatan Sin-tong itu kalau sampai kakek datuk sesat ini bertemu dengan anak itu.
“Apa yang Locianpwe katakan memang benar. Di antara Locianpwe dengan Bu-tong-pai, tidak pernah ada urusan. Dan sekali ini, kami orang-orang muda dari Bu-tong-pai juga tidak berniat untuk menganggu Locianpwe yang terhormat. Hanya kami mendengar berita bahwa diantara banyak tokoh kang-ouw, Locianpwe juga berminat kepada anak kecil budiman yang terkenal dengan sebutan Sin-tong dan yang berdiam di dalam Hutan Seribu Bunga. Benarkah ini, dan apakah Locianpwe sekarang sedang menuju ke hutan itu?”

Mulai berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini, senyumnya masih ada akan tetapi sepasang matanya yang tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya kegembiraannya dan berubah dengan sinar kilat yang mengejutkan mereka semua.
“Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar aku hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?”

Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat “Mencium” keadaan yang membuat mereka semua siap siaga. Mereka melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi itu dan ramah ini mulai memperlihatkan “tanduknya” atau watak sesungguhnya.
“Locianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon kepada Locianpwe agar tidak mengganggu Sintong.”
“Apamukah bocah itu?”
“Bukan apa-apa, Locianpwe. Namun mendengar betapa anak ajaib itu telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu tanpa pamrih, maka sudahlah menjadi kewajiban semua orang gagah di dunia kang-ouw untuk menjaga keselamatannya.”

Perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh sikap mengejek, matanya berkilat-kilat dan suaranya berubah kaku, ketus dan memandang rendah.
“Anak-anak kurang ajar! Apakah Si Tua Bangka Kui Bho Sanjin yang mengutus kalian?”
“Guru kami tidak tahu-menahu tentang ini. Kami kebetulan berada di daerah ini dan mendengar akan Sintong yang terancam bahaya, maka kami melihat Locianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja kalau Locianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama sekali tidak kurang ajar dan kami mohon maaf sebanyaknya.”
“Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai Sin-tong?”

Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek ini sudah mulai berterus terang, maka tiada salahnya kalau mereka bersikap waspada dan berterus terang pula.
“Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong sedang menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiat-ciang-hoat-sut (Ilmu Hitam Tangan Darah)?” Tiba-tiba Kwat Lin berseru sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu. Para suhengnya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur dikeluarkan dan memang dalam hati mereka terkandung tuduhan ini.
Ilmu Hiat-ciang hoat-sut adalah semacam ilmu hitam yang hanya dapat dipelajari oleh kaum sesat karena ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu menghimpun kekuatan hitam dengan jalan menghisap dan minum darah, otak dan sumsum anak-anak yang masih bersih darahnya! Tentu saja bagi seorang yang sedang menyempurnakan ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik yang luar biasa, karena darah, otak dan sumsum seorang bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari darah, otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya!.

Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar. “Hah-hah-hah-hah, memang benar! Dan satu-satunya bocah yang akan menyempurnakan ilmuku itu adalah Sin-tong! Dan aku bukan hanya suka minum dan menghisap darah, otak dan sumsum bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenang-senang dengan perawan cantik seperti engkau, Nona!”
“Singggg! Singggg…!” Tampak sinar-sinar berkilauan ketika pedang yang tiga belas buah banyaknya itu bergerak secara berbarengan dan tiga belas orang pendekar itu telah mengurung si Kakek yang masih tertawa-tawa.
“Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda harus mati, kecuali Nona manis. Andaikata Si Tua Bangka Kui Bhok Sanjin berada disini sekalipun, dia juga tentu akan mampus kalau berani menentang Pat-jiu Kai-ong!”
“Serbu dan basmi iblis ini!” Twa-suheng itu berteriak dan mereka sudah menerjang maju dengan bermacam gerakan yang cepat dan dahsyat.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang dahsyat, pekik yang disusul dengan suara tertawa menyeramkan. Suara ketawa ini bergema di seluruh hutan, sehingga terdengar suara ketawa menjawabnya dari semua penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan telah datang oleh panggilan kakek itu. Hebatnya, suara pekik dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan jantung mereka seolah-olah berhenti berdenyut. Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera berseru, “Awas. Saicu-hokang (Ilmu menggereng seperti singa berdasarkan khikang)!”

Seruan ini menyadarkan para sutenya dan sumoinya. Mereka cepat mengerahkan sinkang sehingga pengaruh Saicu-hokang itu membuyar. Pedang mereka melanjutkan gerakannya. “Sing-sing…. siuuuut…. trang-trang-trang..Heh-heh-heh!” Gulungan sinar pedang-pedang yang menyambar ke arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, dapat ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang mereka tertangkis tongkat. Hal ini menandakan bahwa Si kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata terbuat dari logam pilihan sehingga mampu menahan ketajaman pedang di tangan mereka, padahal semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka yang ampuh.

“Ha..ha..ha, inikah Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima Unsur) dari Bu-tong-pai yang terkenal? Ha..ha, tidak seberapa!” Sambil menggerakan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang, kakek itu tertawa dan mengejek.

“Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!” Teriak si Twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar amat tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya. Tiba-tiba tiga belas orang pendekar itu merobah gerakan mereka, kini mereka tidak lagi menyerang dari kedudukan tertentu, melainkan mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil bergerak berkeliling mereka menyusun serangan berantai yang susul menyusul dan yang datangnya dari arah yang tidak tertentu. Diam-diam kakek itu terkejut. Sejenak dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan tertentu, biarpun gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan dapat menggerakan tongkat secara otomatis untuk menangkis semua pedang yang dating menyambar. Akan tetapi sekarang, sukar sekali menentukan dari mana serangan akan datang, dan gerakan mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa pusing. Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin-kiam-tin dia tahu behwa mereka kalau dia tidak cepat mendahului mereka, dia bisa terancam bahaya.
Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka Kui Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan pedang yang demikian lihainya.
Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah!

“Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!” Si Twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna tangan kiri kakek itu. Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, lebih dahsyat daripada tadi dan tubuhnya mendadak membalik, tongkatnya menyambar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan. “Prak-prak…dessss!” Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi terkena pukulan jarak jauh Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dadanya tampak ada bekas lima jari merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus. Itulah Hiat-ciang Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti Sin-tong!.

Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat dan penuh dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil bergerak menyerang, dan kembali tiga orang lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk membebaskan diri.

Empat kali terdengar dia memekik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas semua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup tinggal The Kwat Lin seorang! Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek dia menghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua belas orang suhengnya telah tewas semua! Dua belas orang suhengnya yang selama ini berjuang sehidup semati dengannya, kini telah menjadi mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu mengurung dia dan Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya.

“Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!” Kwat Lin berseru mengandung isak tertahan. “Haiiiit…..!” tubuhnya melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan dengan kebencian meluap-luap. Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping menghantam pedang yang menusuknya. “Krekkk!” Pedang itu patah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin! Dara itu membelalakan matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat untuk membenturkan kepalanya pecah pada batang pohon itu! Kwat Lin melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan daripada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, dia mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada batang pohon. “Bukkkkkk!” Bukan batang pohon yang dibentur kepalanya, melainkan perut lunak dan tubuhnya berada dalam pelukan Pat-jiu Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ menghadangnya di depan pohon!

“Lepaskan aku!!” Kwat Lin berteriak dan tubuhnya tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu, jauh kembali ke dalam lingkaran mayat-mayat suhengnya. Dengan langkah gontai, kakek itu tersenyum-senyum memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas para penggeroyoknya, menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah tersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan menghadapi seekor harimau yang siap menerkamnya. Perasaan ngeri yang luar biasa membuat Kwat Lin cepat menggerakan tangan kanannya, dengan dua buah jari tangan dia menusuk ke arah ubun-ubun kepalanya sendiri sambil mengerahkan sinking. Batu karang saja akan berlubang terkena tusukan jari tangannya seperti itu apa lagi ubun-ubun kepalanya. “Plakkk!”

“Aihhh….!” Kwat Lin menjerit ketika tangannya itu tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah berdiri di depannya dan telah mencegah dia membunuh diri! “Bretttt…bretttt….!” Tongkat kakek itu bergerak beberapa kali dan seperti disulap saja seluruh pakaian yang membungkus tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai, membuatnya menjadi telanjang bulat sama sekali!

Kwat Lin menjerit akan tetapi tiba-tiba, seperti seekor kucing menerkam tikus, sambil mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kakek itu telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka berdua bergulingan diatas rumput yang bernoda darah para korban keganasan kakek itu! Kwat Lin melawan sekuat tenaga, namun sia-sia belaka. Untuk membunuh diri tidak ada jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan semua jeritan tangis dan permohonan, semua usahanya meronta-ronta tiada gunanya sama sekali. Bahkan semua usaha ini malah menyenangkan hati si Kakek. Seolah-olah seekor kucing yang menjadi gembira dapat mempermankan seekor tikus yang telah tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya dan melihatnya tersiksa dan meronta sebelum menjadi mangsanya!

Selama tiga hari tiga malam Kwat Lin menderita siksaan yang amat hebat. Diperkosa, dihina, diejek. Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali dalam keadaan lebih banyak yang mati daripada yang hidup, dalam keadaan setengah sadar, rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang mendelik memandang kakek itu. Kwat Lin melihat kakek itu mengenakan pakaian, menyambar tongkatnya dan tertawa memandang kepadanya yang masih rebah terlentang dalam keadaan telanjang bulat di atas rumput berdarah.
“Ha-ha-ha, sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas, dan kalau kau mau membunuh diri, silahkan. Ha-haha!”

Biarpun Kwat lin berada dalam keadaan menderita hebat, kehabisan tenaga, hampir mati karena lelah, muak, jijik, malu, marah dan dendam tercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, namun kebencian yang meluap-luap masih memberinya tenaga untuk berseru,
“Jahanam, sekarang aku harus hidup! Aku harus hidup untuk melihat engkau mampus di tanganku!”
“Ha..ha..ha..ha! Kalau sewaktu-waktu kau merasa rindu kepadaku, manis, datang saja ke Hong-san, sampai jumpa!” Kakek itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu meninggalkan Kwat-Lin yang masih rebah dan kini wanita yang bernasib malang ini menangis sesenggukan dia antara mayat-mayat dua belas suhengnya yang sudah mulai membusuk dan berbau! Dapat dibayangkan betapa tersiksa rasa badan wanita muda ini. Dia dipaksa, diperkosa, dihina di antara mayat-mayat dua belas suhengnya, bahkan sewaktu keadaan mayat-mayat itu mulai membusuk dan menyiarkan bau yang hampir tak tertahankan, kakek itu masih saja enak-enak mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang kejam melebihi iblis sendiri.

Bersambung : Jilid 02

Daftar Karya Kho Ping Hoo

16 Dec

Karya Kho Ping Hoo Lengkap

  1. Gin kiam gi to Djil. 1-2 – Kho, Ping Hoo / Analisa / 1961
  2. Pedang penakluk iblis : tjerita silat asli ; Djil. 1-4, 6-18. Jil. 19-21 / karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo ; pelukis Sriwidjono & Soebagyo. (Solo : Gema, 1987 – Kho Ping Hoo / Djelita / 1963)
  3. Drama gunung Kelud (Kho Ping Hoo / Gema / 1966)
  4. “Tersesat” (Kho Ping Hoo / Gema / 1966 )
  5. Lintang-lintang dadi seksi (Kho Ping Hoo / Gema / 1966)
  6. ?
  7. Membasmi bandit air (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Kresno / 1978)
  8. Goda remadja – Kho, Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1966 )
  9. Setan kober – Kho, Ping Hoo / Cet. 1 / Gema / 1966
  10. Komplotan kuda binal – Kho, Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1967
  11. “Geger solo” (bandjir bandang) – Hoo, Kho Ping / Gema / 1966
  12. Sebilah pedang keradjaan – Kho, Ping Hoo / Analisa / 1961
  13. Pendekar sakti (Bu pun su lu kwan tju) : tjerita silat aseli – Kho, Ping Hoo / Djelita / 1963
  14. Si Walet Hitam (Ouw Yan Tju) : anak si Teratai Merah : tjerita silat aseli – Kho Ping Hoo / Perpustakaan Umum Djelita / 1961
  15. Djago pedang tak bernama : (Bu Beng Kiam Hiap) – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  16. Sin Kun Bu Tek : (kepalan dewa tanpa tandingan) – Kho, Ping Hoo / Analisa / 1960
  17. “Darah mengalir di Borobudur” – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  18. “Sekarsih” : (dara segara kidul) – Kho Ping Hoo / Gema / 1966
  19. Kim kong kiam : (Pedang sinar emas) ; Djil. 1-4 – Kho Ping Hoo / Analisa / 1964
  20. Kepalan dewa : (Sin Kun Bu Tek) – Kho Ping Hoo / Tjit. ke-2 / Gema / 1965
  21. Nona berbunga hidjau : (Kunlun Hiap-Kek) ; Djil. 1-3 – Kho Ping Hoo / Analisa / 1965
  22. Kasih diantara remadja (Bu Lim Kuntju) ; Djil. 1-9 – Kho Ping Hoo / Tjit. 1 / Gema / 1965
  23. Keris maut – Kho / Gema / 1966
  24. Senam kesehatan Cina tradisional : Yi-jin-jing, Pa-tuan-jin, Tal chi-cuan dan Tai-chi Ci-kung – Kho Ping Hoo / Cet. 1 / Gema / 1987
  25. Tiga naga dari angkasa : (Sam liong shia thian) ; Jil. I-III – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  26. Karena wanita : roman bermutu ; Djil. I-II – Kho Ping Hoo / Djelita / 1958
  27. Dewi Sungai Kuning : (Huangho Lihiap) ; Djil. I-II – Kho / Tjet. ke-2 / Gema / 1967
  28. Gègèr Demak ; Djil. I-II – Kho / Tjet .1 / Gema / 1966
  29. Randa Kuning membalas dendam : iblis mengamuk di Mataram ; Djil. I-IV (Kho Ping Hoo / Gema / 1963)
  30. Mutiara Hitam ; Djil. 1-18. – 1969. Jil. 19-23. – 1985 – Kho Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1969-1985
  31. Iblis mengamuk di Mataram ; Djil. I-II – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  32. Dara perkasa retnawulan ; Djil. I-II – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  33. Pendekar2 bernasib sial : (Sianli engtju) ; Djil. I-IV – Kho Ping Hoo / Analisa / 1963
  34. Pendekar arak dari Kanglam : (Kanglam Tjiuhiap) ; Djil. ke-I/VII – Kho Ping Hoo / Djelita / 1961
  35. Djaka Wulung, ksatrya Gunung Lawu ; Djil. I/II – Kho Ping Hoo / Analisa / 1962
  36. Pendekar gila dari Shantung : (Shantung koayhiap) ; Djil. i-iii – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  37. Pendekar bodoh : tjerita silat aseli ; Djil. i-xiv – Kho Ping Hoo / Djelita / 1961
  38. Pendekar buta ; Djil. i-xiv – Kho Ping Hoo / Gema / 1967
  39. Pendekar budiman : (Hwa i enghiong) : tjerita silat aseli ; Djil. I-VIII – Kho Ping Hoo / Djelita / 1962
  40. Sepasang naga berebut mustika ; Djil. I-IV – Kho Ping Hoo / Djelita / 1960
  41. Pendekar tjengeng ; Djil. I-IX – Kho / Gema / 1968
  42. Pedang pusaka naga putih – Kho Ping Hoo / Analisa / 1961
  43. Ang I Niotju : (dara badju merah) : tjerita silat aseli ; Djil. 1-11 – Kho Ping Hoo / Djelita / 1971
  44. “Satria” Gunung Kidul – Kho Ping Hoo / Tjet. ke-2 / Gema / 1961
  45. Radjawali Emas ; Djil. 1-18 – Kho Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1966
  46. Pedang Pusaka Naga Putih ; Djil. 1-5 (Kho Ping Hoo / Tjet. ke-2 / Gema / 1965)
  47. Pendekar Remadja : tjerita silat aseli (Kho Ping Hoo / Djelita / 1962)
  48. Radja Pedang ; Djil. 1-15 (Kho Ping Hoo / Gema / 1966)
  49. Pusaka Gua Siluman : tjerita silat aseli ; Djil. 1-17 (Kho Ping Hoo / Djelita / 196X )
  50. Angliong Pekho ; Djil. 1-3 (Kho Ping Hoo / Analisa / 1962)
  51. Si tangan geledek : tjerita silat aseli ; Djil. 1-20 (Kho Ping Hoo / Djelita / 196X)
  52. Sam Liong To ; Djil. 1-10 (Kho Ping Hoo / Analisa / 1963)
  53. Darah patriot : landjutan kasih diantara remadja ; Djil. 1-5 (Kho Ping Hoo / Gema / 1965)
  54. Djaka Lola : sambungan pendekar buta ; Djil. 1-15 (Kho Ping Hoo / Gema / 1968)
  55. Badjak laut Kertapati (Kho Ping Hoo / Tjet. ke-2 / Gema / 1965)
  56. Bu Eng Tju (Kho Ping Hoo / Analisa / 1963)
  57. Pek I Lihiap ; Djil. 1-2 (Kho Ping Hoo / Analisa / 1960)
  58. Ang Bi Tin ; Djil. 3-8 (Kho Ping Hoo / Analisa / 1962)
  59. Tjinta bernoda darah ; Djil. 4-5, 7-8, 11-20 (Kho Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1968)
  60. Keris Pusaka dan Kuda Iblis ; Djil. 1-2 (Kho Ping Hoo / Analisa / 1960)
  61. Suling emas ; Djil. 1-11, 14-21 (Kho Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1968)
  62. Dara Badju Putih ; Djil. 1-4 (Kho Ping Hoo / Tjet. 2 / Gema / 1965)
  63. “Tjheng Hoa Kiam” : tjerita silat aseli ; Djil. 1-20 . – 1220 p (Kho Ping Hoo / Djelita / 19XX)
  64. Toat-Beng Mo-Li ; Djil. I-III (Kho Ping Hoo / Analisa / 1962)
  65. Keris pusaka jang haus darah (Kho Ping Hoo / Analisa / 1962)
  66. Pendekar gaib berbadju putih (Kho Ping Hoo / Analisa / 1961)
  67. Keris Pusaka dan Kuda Iblis ; Djil. 1-5 (Kho Ping Hoo / Gema / 1990)
  68. Pendekar super sakti ; Djil. 1,3 (Kho Ping Hoo / Tjet. 1 / Gema / 1970)
  69. Istana Pulau Es : landjutan Mutiara Hitam (Kho Ping Hoo”, Asmaraman / Tjet. 1 / Gema / 1970-1972)
  70. Pedang Sinar Emas (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Tjet. 1 / Gema / 1971)
  71. Dara pendekar ; Jil. 1-5, 7-12 (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Kresno / 1976)
  72. Dewi Maut ; Jil. 1-28 (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Cet. 1 / Gema / 1974)
  73. Kepalan maut ; 2 dl (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Genta / 1973)
  74. Ji Liong Jio Cu ; Jil. 1-8, 10 (Kho Ping Hoo, Asmaraman / Genta / 1975)
  75. Ang I lihiap : (Si badju merah dari Hengsan), Kho Ping Ho / Analisa / 1961
  76. Badai Laut Selatan, Romli, M. Abnar / Kanta Indah Film / 1990
  77. Apa yang dinamakan ilmu kasekten, ilmu gaib?, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Brajamusti Enterprise etc. / 1991
  78. Kidung senja di Mataram ; Jil. 1-12, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1986
  79. Bajak laut kertapati ; Jil. 1-3, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  80. Pendekar Gunung Lawu ; Jil. 1-5, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  81. Jaka Galing ; Jil. 1-4, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  82. Rondo Kuning membalas dendam, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  83. Asmara berdarah ; Jil. 25. – Cet. 1. – 1979. Jil. 1-30, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1979
  84. Ang I Niocu ; Jil. 1-3, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1973
  85. Cinta bernoda darah ; Jil. 1-22, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1975
  86. Suling Naga : kisah para pendekar Pulau Es bagian ke-II ; Jil. 9-10,12-14,16-17,23, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1980
  87. Sintaro Koayhiap ; Jil. 1-8,10,11, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1975
  88. Kisah para pendekar Pulau Es ; Jil. 1-3, 5-14, 17-23, 26, 28, 30-32, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1978
  89. Pendekar-pendekar Patah Hati ; Djil. 1-4, 6-8, 10-13, 15-22, 25-28, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Marga Djaja / 1972
  90. Si muka bopeng ; Djil. 1-5, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Genta / 1973
  91. Pembakaran Kuil Thian-Lok-Si ; Jil. 1-3 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1979
  92. Jodoh si mata keranjang ; Jil. 1-15 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1984-1985
  93. Si Bangau Merah : lanjutan Si Bangau Putih ; Jil. 1-15 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1984
  94. Kisah sepasang rajawali ; Jil. 1-34 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1979-1980
  95. Sejengkal tanah sepercik darah! ; Jil. 1-23 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1982-1983
  96. Kisah Pendekar Bongkok ; Jil. 1-26 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1983
  97. Kisah si Bangau Putih ; Jil. 1-23 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1981-1982
  98. Pendekar Sadis, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1977
  99. Darah pendekar : Sriwidjono ; Jil. 1-5, 6,8-10, 11-27, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1977
  100. Asmara di balik dendam membara ; Jil. 1-13 Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1988
  101. Sepasang Garuda Putih : lanjutan Perawan Lembah Wilis ; Jil. 1-16, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1988
  102. Pendekar baju putih ; Jil. 1-11, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1987
  103. Pendekar buta ; Jil. 13, 15-20, Kho”Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1982
  104. Raja pedang ; Jil. 1-22, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1980
  105. Wanita iblis dari lembah Cia Ling, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1979
  106. Perawan lembah Wilis, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1977-1978
  107. Si Tangan Sakti (Sin-Ciang Tai-Hiap) ; Jil. 1-15, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1985
  108. Datuk pendekar : (Lam-hai tai-swe) ; Jil. 1-10, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Karya Baru / 1979
  109. Sepasang naga penaluk iblis ; Jil. 1-18, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1982-1983
  110. Pedang awan merah ; Jil. 1-13, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1987
  111. Keris Pusaka Nogopasung ; Jil. 1-6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1981
  112. Pedang Kayu Harum, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  113. Si naga beracun, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1984
  114. Kisah tiga naga sakti, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1982
  115. Suling Emas dan Naga Siluman, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1993
  116. Kisah si Tawon Merah Bukit Heng-San (pendekar wanita), Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991
  117. Kisah si Naga Langit, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  118. Si Teratai Emas, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991
  119. Suling pusaka kemala, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1990
  120. Pendekar tanpa bayangan, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1992
  121. Pendekar mata keranjang ; Jil. 1-48, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1992-1993
  122. Patung Dewi Kwan Im ; Jil. 1-17, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  123. Gelang Kemala ; Jil. 1-18, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  124. Asmara Si Pedang Tumpul ; Jil. 1-16, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  125. Si Pedang Tumpul ; Jil. 1-10, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  126. Sakit hati seorang wanita ; Jil. 1-13, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991-1992
  127. Dewi Ular ; Jil. 1-15, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  128. Pendekar Cengeng ; Jil. 1-17, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  129. Liong-San Tung-Hiap ; Jil. 1-7, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  130. Sepasang pedang iblis ; Jil. 1-50, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  131. Kisah Si Pedang Terbang ; Jil. 1-13, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1986
  132. Maling Sakti ; Jil. 1-6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1980
  133. Tiga dara pendekar Siauwlim ; Jil. 1-9, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  134. Ouwyang Heng-Te ; Jil. 1-7, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  135. Ouwyang Heng-Te ; Jil. 1-20, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1996
  136. Nurseta Satria Karang Tirta ; Jil. 1-20, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991-1992
  137. Pecut Sakti Bajrakirana ; Jil. 1-17, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1989
  138. Ang I Niocu ; Jil. 1-20, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  139. Kemelut Blambangan ; Jil. 1-22, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991-1992
  140. Bayangan Bidari ; Jil. 1-21, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1992
  141. Pendekar Gila ; Jil. 1-9, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  142. Pendekar dari Hoasan ; Jil. 1-5, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. ke-4 / Gema / 1988
  143. Pendekar Pemabuk ; Jil. 1-18, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  144. Pendekar-pendekar Siauwlim ; Jil. 1-9, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1979
  145. Iblis dan bidadari ; Jil. 1-6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Solo: Gema / 1996
  146. Pedang Pusaka Thian-Hong-Kiam ; Jil. 1-20, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Solo: Gema / 1993-1994
  147. Jodoh Rajawali ; Jil. 1-62, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Solo: Gema / 1993-1994
  148. Pedang Asmara ; Jil. 1-34, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Solo: Gema / 1995
  149. Keris pusaka Sang Megatantra ; Jil. 1-22, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Solo: Gema / 1990-1991
  150. Antara dendam dan asmara ; Jil. 1-30, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Solo: Gema / 1994
  151. Bagus Sajiwo ; Jil. 1-21, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Solo: Gema / 1991
  152. Sepasang Rajah Naga ; Jil. 1-32, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Solo: Gema / 1989-1990
  153. Dendam membara ; Jil. 1-4, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1982
  154. Pusaka Pulau Es ; Jil. 1-18, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994-1995
  155. Sepasang Naga Lembah Iblis ; Jil. 1-12, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1987
  156. Pedang Naga Hitam ; Jil. 1-17, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1987
  157. Kemelut Kerajaan Mancu ; Jil. 1-14, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 1 / Gema / 1993
  158. Kisah sepasang naga ; Jil. 1-10, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  159. Kemelut di Mojopahit ; Jil. 1-37, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1991-1992
  160. Si Naga Beracun ; Jil. 1-34, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  161. Petualang asmara ; Jil. 1-50, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  162. Badai Laut Selatan ; Jil. 1-39, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990-1992
  163. Si Kumbang Merah Pengisap Kembang ; Jil. 1-32, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  164. Ratna Wulan ; Jil. 1-6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990-1991
  165. Bu Kek Siansu ; Jil. 1-24, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  166. Siluman Guha Tengkorak, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  167. Harta karun Jenghis Khan ; Jil. 1-6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  168. Banjir darah di Borobudur ; Jilid 1-7, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  169. Si Rajawali sakti ; Jil. 1-17, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  170. Pendekar Lembah Naga ; Jil. 1-57, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  171. Mestika golok naga, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1995
  172. Pendekar remaja, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1994
  173. Jodoh Si Naga Langit ; Jil. 1-16, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 2 / Gema / 1998
  174. Pendekar Bunga Merah ; Jil. 1-9, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Cet. 2 / Gema / 1998
  175. Rajawali Hitam : lanjutan Dewi Ular ; Jil. 1-15, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  176. Lembah Selaksa Bunga ; Jil. 1-14, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  177. Si Tangan Halilintar ; Jil. 1-22, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1997
  178. Seruling gading ; Jil. 1-24, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1989-1990
  179. Pendekar buta, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1974
  180. Dendam si anak haram ; Jil. 1-13, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Tjet. ke-3 / Gema / 1989
  181. Pembalasan Suma Eng ; Jil. 1-16, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1975
  182. Perawan Lembah Wilis, Kho Ping Hoo , Asmaraman S. / Gema / 1991
  183. Cheng hoa kiam, Kho Ping Hoo , Asmaraman S. / Gema / 2001
  184. Rajawali lembah Huai, Kho Ping Hoo , Asmaraman S. / Cet. 3 / Gema / 2001
  185. Gin kiam gi to, Kho Ping Hoo , Asmaraman S. / Gema / 2000
  186. Pendekar Sadis, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 2000
  187. Toat-Beng Mo-Li, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  188. Toat-Beng Mo-Li ; 7, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  189. Toat-Beng Mo-Li ; 6, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  190. Toat-Beng Mo-Li ; 5, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  191. Toat-Beng Mo-Li ; 4, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  192. Toat-Beng Mo-Li ; 3, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  193. Toat-Beng Mo-Li ; 2, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1990
  194. Pedang penakluk iblis, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1986
  195. Mutiara Hitam, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1984-1985
  196. Ciuman gadis berbisa, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1977
  197. Bintang-bintang menjadi saksi, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Kresno / 1977
  198. Si Dewi Hijau ; Jil. 1, Kho Ping Ho, Asmaraman / Up. Genta / 1972
  199. Daftar judul cerita silat Indonesia, cerita roman, karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) / s.n. / 1999
  200. Djaka galing, Asmaraman / Analisa / 1961
  201. Pendekar Sungai Huangho – Asmaraman / Analisa / 1961
  202. Perawan Lembah Wilis : sambungan Badai Laut Selatan ; Djil. i-xxiii – Asmaraman / Gema / 1970-1971
  203. Pendekar bodoh – Syailendra, Anda / Sastra Kumala / 1980
  204. Si Teratai Merah – Asmaraman / Tjet. ke-4 / Gema / 1970-1972
  205. Badjak laut Kertapati – Asmaraman / Analisa / 1961
  206. Pahlawan-pahlawan sejati – Khopinghoo, Asmaraman S. / Kresno / 1978
  207. Sekarsih – Asmaraman S. / Kresno / 1978
  208. Ji liong jio cu (sepasang naga berebut mustika) ; Jil. 1-10, Kho Ping Hoo / Genta / 1975
  209. Keris maut ; Jilid 1-3, Kho Ping Hoo / Gema / 1974,
  210. Banjir darah di Borobudur ; Jilid 1-6, Kho Ping Hoo / Gema / 1973
  211. Djaka Wulung : ksatria gunung Lawu ; Djilid 1-3 – Kho Ping Hoo / tj. ke-2 / Gema / 1966
  212. Jaka Galing ; Jilid 1-3 – Kho Ping Hoo / Gema / 1974
  213. Kisah dua ksatria Bali ; Jilid 1-3 – Kho Ping Hoo / Gema / 1973
  214. Leak dari guwa gadjah ; Djilid 1-2 – Kho Ping Hoo / Gema / 1966
  215. Pedang keramat (Thian Hong Kiam) ; Djilid 1-2 – Kho Ping Hoo / cet. ke-2 / Gema / 1966
  216. Rondo kuning membalas dendam ; Jilid 1-4 – Kho Ping Hoo / Gema / 1973
  217. Siane – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Yayasan Remaja Press / 1981
  218. Geger Demak : setan kober – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1980
  219. Geger Solo : banjir bandang – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1979
  220. Merdeka atau mati – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1979
  221. Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo : writer of cloak-and-dagger stories in Indonesia (1926- 1994), Sidharta, Myra / In: Archipel; (1994), afl. 48, pag. 157-176 / 1994
  222. Dua pendekar dari Bali – Kho Ping Hoo / Analisa / 1966 – 223. Peristiwa sejarah dan karya sastra dan masyarakat : [paper pada] Seminar ilmu dan seni Pusat Penelitian dan Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, [tg. 14 - 15 Ag.] 1982, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Pusat tsb. / 1981
  223. Pendekar super sakti – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1985
  224. Dendam seorang perempuan – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1980
  225. Si bayangan iblis – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1983
  226. Mestika burung Hong Kemala ; Jil. VIII: 64 p. – Jil. IX: 64 p. – Jil. X: 64 p. – Jil. XI: 64 p. – Jil. XII: 64 p. – Jil. XIII: 77 p, Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1986
  227. Naga sakti sungai kuning (Huang-ho-Sin-liong) – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1982
  228. Kisah si pedang kilat – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1984
  229. Dendam sembilan iblis tua – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1985
  230. Badai Laut Selatan – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1976
  231. Kemelut di Mojopahit – Kho Ping Hoo, Asmaraman S. / Gema / 1974
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.